Archive for Maret 2014
Game Populer Flappy Bird "Dibajak"
Versi resmi Flappy Bird dikembangkan oleh Dong Nguyen dan untuk sementara ini baru tersedia untuk telepon genggam Android dan buatan Apple.
Flappy Bird,
game yang popularitasnya meroket akhir-akhir ini, telah hadir untuk
ponsel berbasis Windows, meski pengembang resmi game ini belum
meluncurkan versi untuk sistem operasi tersebut.
Versi resmi Flappy Bird dikembangkan oleh Dong Nguyen dari Vietnam dan untuk sementara ini baru tersedia untuk telepon genggam Android dan buatan Apple."Maaf untuk para pengguna ponsel Windows karena (Flappy Bird) belum bisa hadir untuk ponsel Windows. Saya sedang berusaha untuk membuat game ini untuk Windows," kata Nguyen melalui Twitter, hari Jumat (07/02).
Di versi Windows game ini dibuat oleh IG Mobile.
Juru bicara Microsoft mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki 'kasus pembajakan' ini.
Fappy Bird dimainkan dengan cara mengetukkan jari ke layar ponsel. Ketukan membuat burung akan terbang dan untuk mendapatkan poin, pemain diharuskan melewati rintangan.
Sepintas terlihat mudah dan sederhana namun tingkat kesukaran game ini tergolong tinggi, yang pada akhirnya membuat pemain penasaran dan ketagihan.
Sejak diluncurkan pada Mei 2013 Flappy Bird sudah diunduh 50 juta kali, membuatnya menjadi game paling populer baik untuk versi iPhone maupun Android.
Popularitas Flappy Bird tak lepas dari bantuan promosi dari mulut ke mulut melalui media sosial.
Diperkirakan Nguyen meraup US$50.000 per hari dari pendapatan iklan yang muncul saat game ini dimainkan.
(Sumber: bbc.co.uk/indonesia)
Pada era modern seperti sekarang ini, kata game mungkin sudah tidak
asing lagi bagi kita. Tapi yang perlu kita pahami adalah apakah kita
tahu apa pengertian game ?. Mungkin kita memang sering mendengar kata
game bahkan memainkan game baik yang sifatnya offline ataupun online, akan tetapi kita belum tentu tahu yang sebenarnya apa itu game, genre game, dan komponen yang harus ada dalam sebuah game.
Game merupakan kata yang berasal dari bahasa inggris yang berarti permainan. Game atau permainan ini pun tidak sembarang dimana di dalamnya terdapat berbagai aturan yang harus dipahami oleh penggunanya. Dalam game juga perlu adanya sekenario agar alur permainan pun jelas dan terarah. Sekenario di sini bisa meliputi setting map, level, alur cerita, bahkan efek yang ada dalam game tersebut.
Genre / Jenis Game :
Dalam sebuah game atau permainan pastilah memiliki komponen dasar yang membuat game tersebut menjadi user friendly, misalnya :
Cukup sekian dan terima kasih.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.
SUMBER:COMPAS
Game merupakan kata yang berasal dari bahasa inggris yang berarti permainan. Game atau permainan ini pun tidak sembarang dimana di dalamnya terdapat berbagai aturan yang harus dipahami oleh penggunanya. Dalam game juga perlu adanya sekenario agar alur permainan pun jelas dan terarah. Sekenario di sini bisa meliputi setting map, level, alur cerita, bahkan efek yang ada dalam game tersebut.
Genre / Jenis Game :
- Edutainment game
Game jenis ini biasanya dibuat lebih sepesifik untuk tujuan tertentu, misalnya untuk balita untuk sekedar mengenal warna dan objek. Ada juga yang ditujukan ke anak sekolah, sebagai contoh game tentang pelajaran biologi dimana di dalam game tersebut menyediakan konten misalnya tentang fungsi organ tubuh manusia. - First person shooter
Jenis game ini menampilkan sudut pandang orang pertama, biasanya yang nampak hanya tangan dan senjata player saja. Contoh game ini adalah CS (Counter strike), Saurbatten, dll. - Real time strategy
Game ini lebih menekankan pada kehebatan strategi pemainya, dan biasanya pemain tidak hanya memainkan satu karakter melainkan lebih dari satu karakter. - Fighting
Game ini menuntut pemainya untuk lincah, cepat tanggap, respon yang baik. Sedikit berbeda dari game fighting lainya yang hanya melawan AI atau komputer saja, melainkan game ini akan teruji jika pemain sudah bisa mengalahkan pemain lainya atau dengan kata lain game ini merupakan game multi player. - Adventure
Berbeda dengan game lain yang menuntut pemainya untuk lincah, refleks, respon. Dalam game petualangan pemain dituntut kemampuan berfikirnya untuk menganalisa tempat secara visual, memecahkan teka-teki maupun menyimpulkan rangkaian peristiwa dan percakapan karakter, menggunakan benda-benda yang tepat dan diletakan di tempat yang tepat.
Dalam sebuah game atau permainan pastilah memiliki komponen dasar yang membuat game tersebut menjadi user friendly, misalnya :
- Collision detection, dimana dalam sebuah game dapat mendeteksi efek atau aksi yang perlu dalam sebuah game. Misalnya, jika mobil menabrak maka mobil akan mengalami kerusakan pada body.
- NPC, dimana dalam game tersebut player dapat berinteraksi dengan player lain.
- Grafik
- Suara
- Artificial intelegent
- Sekenario atau cerita.
Cukup sekian dan terima kasih.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.
SUMBER:COMPAS
Efek Positif Game
Main game sebenarnya bermanfaat atau tidak? Kita sering mendengar efek efek negatif dari main game, seperti sekolah atau kerjaan terbengkalai, pelajaran tertinggal dan sebagainya. Lalu pertanyaannya muncul, apakah ada manfaat dari main game itu?Di tengah perdebatan pengaruh buruk yang ditimbulkan dari game, ada juga yang melakukan penelitian tentang manfaat yang didapat oleh gamer dari sebuah video game.
Beberapa peneliti dari University of Rochester di New York, Amerika melakukan riset mengenai pengaruh positif dari bermain game.
Dalam riset tersebut, para gamers usia antara 18 hingga 23 tahun dibagi menjadi dua kelompok.
Yang pertama, adalah gamer yang dilatih dengan game Medal of Honor (Sebuah game FPS yang cukup terkenal). Mereka main game ini satu jam tiap hari selama sepuluh hari berturut-turut.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa para pemain game ini memiliki fokus yang lebih terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang jarang main game, apalagi yang tidak main sama sekali.
Gamer-gamer ini juga mampu menguasai beberapa hal dalam waktu yang sama atau multitasking bahasa kerennya.
“Video game bergenre action itu menguntungkan, dan ini adalah fakta” kata Daphne Bavelier, ahli syaraf dari Rochester.
“Hasil penelitian kami ini juga sangat mengejutkan karena proses belajar lewat main game ternyata cepat diserap seseorang. Dengan kata lain, game dapat membantu melatih orang orang yang memiliki problem dalam berkonsentrasi” tegas Bavelier.
Sementara itu, penelitian untuk kelompok kedua adalah kelompok gamer yang dilatih dengan Tetris. Tak seperti gamer medal of honor, gamer Tetris hanya berfokus pada satu hal pada satu waktu.
Menurut C. Shawn, rekan Bavelier, kesimpulan dari test ini adalah bahwa mereka yang main Medal of Honor mengalami peningkatan dalam visual skill (atau penglihatan).
Bermacam-macam tugas/quest yang terdapat dalam game action (misalnya mendeteksi musuh baru, melacak musuh, menghindari serangan, dll) dapat melatih berbagai aspek dari kemampuan visualisasi terhadap kurikulum Sekolah
Menurut Professor Angela McFarlane, Direktur Teachers Evaluating Educational Multimedia, “guru-guru mengalami kesulitan untuk memanfaatkan game pada saat jam pelajaran sekolah karena penggunaan video game tidak termasuk dalam kurikulum nasional”
McFarlane menambahkan bahwa, seandainya, game-game tertentu dapat dimainkan di dalam kelas secara legal dan merupakan bagian dari kurikulum, mungkin bukti dari penelitian para ahli tentang manfaat video game dapat dirasakan.
Murid murid yang memainkan game Battle of Hasting (game perang antara Normandia dan Saxon di Hasting) , di mana mereka berperan sebagai prajurit ataupun jendral dalam game tersebut, juga memberikan manfaat bagi para pemainnya.
Penelitian menunjukkan bahwa Game ini membantu meningkatkan skill dalam bernegosiasi, mengambil keputusan, ataupun melakukan perencanaan, dan berpikir strategis.
James Paul Gee, penulis buku “What Video Games Have to Teach Us About Learning and Literacy”, berharap suatu saat nanti guru-guru dapat melibatkan game dalam tugas murud-muridnya.
“Kalau ilmuwan dan kalangan militer sudah memanfaatkan game sebagai simulasi dan pengajaran, kenapa sekolah tidak melakukan yang sama?”
Selain itu para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika , sudah memulai proyek yang mereka namakan “Education Arcade”. Proyek ini selain melibatkan peneliti, desainer game, pelajar dan mahasiswa, serta mereka yang tertarik dalam mengembangkan dan menggunakan game-game komputer dan video game di dalam kelas.
“Walaupun main game menjadi salah satu hiburan paling populer di dunia dan sudah dilakukan penelitian tentang dampak positif dan negatifnya terhadap gamer, masih saja game sering kali diremehkan.” Itu pernyataan dari Mark Griffiths, profesor di Nottingham Trent University, Inggris.
Untuk menyeimbangkan antara pro dan kontra terhadap game, selama lima belas tahun terakhir ini ia melakukan riset. Hasilnya? “Video game aman untuk sebagian besar gamer dan bermanfaat bagi kesehatan,” ujar Griffiths.
Menurut Griffiths, game dapat digunakan sebagai pengalih perhatian yang ampuh bagi yang sedang menjalani perawatan yang menimbulkan rasa sakit, misalnya chemotherapy.
Dengan main game, rasa sakit dan pening mereka berkurang, tensi darahnya pun menurun, dibandingkan dengan mereka yang hanya istirahat setelah diterapi. Game juga baik untuk fisioterapi pada anak-anak yang mengalami cedera tangan.
Selain itu, bermain game ternyata bisa mengurangi kepikunan pada saat menjelang berumur.
“Bermain (videogame) bersama cucu sangat baik bagi para lansia. Sebab, kami tahu bahwa interaksi sosial mampu meningkatkan kemampuan daya pikir para manula,” kata peneliti yang juga profesor psikologi dari University of Illinois, Amerika Serikat, Dr Arthur F. Kramer.
Dalam penelitian yang dilansir jurnal Psychology and Aging edisi Desember disebutkan, studi itu melibatkan 40 lansia sehat dengan range usia antara 60-70 tahun. Awalnya, para partisipan mengikuti beberapa variasi tes mental. Riset tersebut menunjukkan manula yang bermain videogame dengan strategi berat bisa meningkatkan skor mereka berdasarkan jumlah ujicoba daya ingat.
Riset mencakup 49 manula yang secara acak ditugasi untuk main videogame, dan kelompok yang tidak ditugasi main game selama lebih dari sebulan. Kelompok main game menghabiskan waktu 23 jam untuk terlibat dalam “Rise of Nations, video game dimana para pemain berkeinginan mencapai dominasi dunia. Menguasai dunia membutuhkan setumpuk tugas berat termasuk strategi militer, membangun kota-kota, mengelola ekonomi dan memberi makan rakyat.game-ron-21
Ketika penelitian berakhir, kemampuan mental mereka kembali diuji. Jika dibandingkan dengan mereka yang tidak memainkan video game, pemain Rise of Nations menunjukkan peningkatan yang lebih besar soal cara kerja otak, ingatan jangka pendek, daya nalar, dan kemampuan berganti tugas.
Jadi manfaat dari bermain game, dapat disimpulkan dalam beberapa point sebagai berikut:
* Bisa menjadi sarana hiburan yang menyediakan interaksi sosial.
* Membangun semangat kerja sama atau teamwork ketika dimainkan dengan gamers-gamers lainnya secara multiplayer
* Bagi manula (lansia) , bisa mengurangi efek kepikunan.
* Meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri anak saat mereka mampu menguasai permainan.
* Mengembangkan kemampuan dalam membaca, matematika, dan memecahkan masalah atau tugas
* Membuat anak-anak merasa nyaman dan familiar dengan teknologi – terutama anak perempuan, yang tidak menggunakan teknologi sesering anak cowok.
* Melatih koordinasi antara mata dan tangan, serta skill motorik.
* Mengakrabkan hubungan anak dan orangtua. Dengan main bersama, terjalin komunikasi satu sama lain.
* Bisa membantu memulihkan kesehatan untuk beberapa kasus penyembuhan.
Diambil Dari : http://www.indonesiaindonesia.com/f/51996-penelitian-manfaat-bermain-game
Penelitian Manfaat Bermain Game
Main game sebenarnya bermanfaat atau tidak? Kita sering mendengar efek efek negatif dari main game, seperti sekolah atau kerjaan terbengkalai, pelajaran tertinggal dan sebagainya. Lalu pertanyaannya muncul, apakah ada manfaat dari main game itu?
Di tengah perdebatan pengaruh buruk yang ditimbulkan dari game, ada juga yang melakukan penelitian tentang manfaat yang didapat oleh gamer dari sebuah video game.
Beberapa peneliti dari University of Rochester di New York, Amerika melakukan riset mengenai pengaruh positif dari bermain game.
Dalam riset tersebut, para gamers usia antara 18 hingga 23 tahun dibagi menjadi dua kelompok.
Yang pertama, adalah gamer yang dilatih dengan game Medal of Honor (Sebuah game FPS yang cukup terkenal). Mereka main game ini satu jam tiap hari selama sepuluh hari berturut-turut.
Gamer-gamer ini juga mampu menguasai beberapa hal dalam waktu yang sama atau multitasking bahasa kerennya.
“Video game bergenre action itu menguntungkan, dan ini adalah fakta” kata Daphne Bavelier, ahli syaraf dari Rochester.
“Hasil penelitian kami ini juga sangat mengejutkan karena proses belajar lewat main game ternyata cepat diserap seseorang. Dengan kata lain, game dapat membantu melatih orang orang yang memiliki problem dalam berkonsentrasi” tegas Bavelier.
Sementara itu, penelitian untuk kelompok kedua adalah kelompok gamer yang dilatih dengan Tetris. Tak seperti gamer medal of honor, gamer Tetris hanya berfokus pada satu hal pada satu waktu.
Menurut C. Shawn, rekan Bavelier, kesimpulan dari test ini adalah bahwa mereka yang main Medal of Honor mengalami peningkatan dalam visual skill (atau penglihatan).
Bermacam-macam tugas/quest yang terdapat dalam game action (misalnya mendeteksi musuh baru, melacak musuh, menghindari serangan, dll) dapat melatih berbagai aspek dari kemampuan visualisasi terhadap kurikulum Sekolah
Menurut Professor Angela McFarlane, Direktur Teachers Evaluating Educational Multimedia, “guru-guru mengalami kesulitan untuk memanfaatkan game pada saat jam pelajaran sekolah karena penggunaan video game tidak termasuk dalam kurikulum nasional”
McFarlane menambahkan bahwa, seandainya, game-game tertentu dapat dimainkan di dalam kelas secara legal dan merupakan bagian dari kurikulum, mungkin bukti dari penelitian para ahli tentang manfaat video game dapat dirasakan.
Murid murid yang memainkan game Battle of Hasting (game perang antara Normandia dan Saxon di Hasting) , di mana mereka berperan sebagai prajurit ataupun jendral dalam game tersebut, juga memberikan manfaat bagi para pemainnya.
Penelitian menunjukkan bahwa Game ini membantu meningkatkan skill dalam bernegosiasi, mengambil keputusan, ataupun melakukan perencanaan, dan berpikir strategis.
“Kalau ilmuwan dan kalangan militer sudah memanfaatkan game sebagai simulasi dan pengajaran, kenapa sekolah tidak melakukan yang sama?”
Selain itu para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika , sudah memulai proyek yang mereka namakan “Education Arcade”. Proyek ini selain melibatkan peneliti, desainer game, pelajar dan mahasiswa, serta mereka yang tertarik dalam mengembangkan dan menggunakan game-game komputer dan video game di dalam kelas.
“Walaupun main game menjadi salah satu hiburan paling populer di dunia dan sudah dilakukan penelitian tentang dampak positif dan negatifnya terhadap gamer, masih saja game sering kali diremehkan.” Itu pernyataan dari Mark Griffiths, profesor di Nottingham Trent University, Inggris.
Untuk menyeimbangkan antara pro dan kontra terhadap game, selama lima belas tahun terakhir ini ia melakukan riset. Hasilnya? “Video game aman untuk sebagian besar gamer dan bermanfaat bagi kesehatan,” ujar Griffiths.
Menurut Griffiths, game dapat digunakan sebagai pengalih perhatian yang ampuh bagi yang sedang menjalani perawatan yang menimbulkan rasa sakit, misalnya chemotherapy.
Dengan main game, rasa sakit dan pening mereka berkurang, tensi darahnya pun menurun, dibandingkan dengan mereka yang hanya istirahat setelah diterapi. Game juga baik untuk fisioterapi pada anak-anak yang mengalami cedera tangan.
{mospagebreak}
“Bermain (videogame) bersama cucu sangat baik bagi para lansia. Sebab, kami tahu bahwa interaksi sosial mampu meningkatkan kemampuan daya pikir para manula,” kata peneliti yang juga profesor psikologi dari University of Illinois, Amerika Serikat, Dr Arthur F. Kramer.
Dalam penelitian yang dilansir jurnal Psychology and Aging edisi Desember disebutkan, studi itu melibatkan 40 lansia sehat dengan range usia antara 60-70 tahun. Awalnya, para partisipan mengikuti beberapa variasi tes mental. Riset tersebut menunjukkan manula yang bermain videogame dengan strategi berat bisa meningkatkan skor mereka berdasarkan jumlah ujicoba daya ingat.
Riset mencakup 49 manula yang secara acak ditugasi untuk main videogame, dan kelompok yang tidak ditugasi main game selama lebih dari sebulan. Kelompok main game menghabiskan waktu 23 jam untuk terlibat dalam “Rise of Nations, video game dimana para pemain berkeinginan mencapai dominasi dunia. Menguasai dunia membutuhkan setumpuk tugas berat termasuk strategi militer, membangun kota-kota, mengelola ekonomi dan memberi makan rakyat.game-ron-21
Ketika penelitian berakhir, kemampuan mental mereka kembali diuji. Jika dibandingkan dengan mereka yang tidak memainkan video game, pemain Rise of Nations menunjukkan peningkatan yang lebih besar soal cara kerja otak, ingatan jangka pendek, daya nalar, dan kemampuan berganti tugas.
Jadi manfaat dari bermain game, dapat disimpulkan dalam beberapa point sebagai berikut:
- Bisa menjadi sarana hiburan yang menyediakan interaksi sosial.
- Membangun semangat kerja sama atau teamwork ketika dimainkan dengan gamers-gamers lainnya secara multiplayer
- Bagi manula (lansia) , bisa mengurangi efek kepikunan.
- Meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri anak saat mereka mampu menguasai permainan.
- Mengembangkan kemampuan dalam membaca, matematika, dan memecahkan masalah atau tugas
- Membuat anak-anak merasa nyaman dan familiar dengan teknologi – terutama anak perempuan, yang tidak menggunakan teknologi sesering anak cowok.
- Melatih koordinasi antara mata dan tangan, serta skill motorik.
- Mengakrabkan hubungan anak dan orangtua. Dengan main bersama, terjalin komunikasi satu sama lain.
- Bisa membantu memulihkan kesehatan untuk beberapa kasus penyembuhan.
10 Dampak Negatif Main Video Game
Beberapa waktu lalu, ROL telah membahas 10 dampak positif bermain video game. Kini, kita akan membahas 10 dampak negatif bermain video game.
Selama bertahun-tahun, orangtua sering bertanya-tanya tentang dampak
negatif dari video game terhadap kesehatan anak-anak mereka. Orangtua
terkadang tak terbiasa dengan hobi anaknya bermain alat elektronik tersebut.
Mereka cenderung percaya bahwa sering bermain video game menyebabkan
penglihatan sang anak rusak, kemampuan mentalnya turun, dan karakter si
anak akan terpengaruh, khususnya jika sering memainkan adegan kekerasan
dalam permainan.
Anak-anak yang bermain video game.
Sebetulnya, apa saja dampak negatif bermain video game? Ini dia dikutip dari SymptomFind.
1. Kurang tidur
Anak sudah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar di sekolah
dan beraktivitas. Namun, mereka ingin tetap bermain video game.
Sehingga, banyak anak mengorbankan waktu berharga mereka untuk tidur
dan menggunakannya untuk bermain video game. Pecandu video game yang
kurang tidur maka dapat membahayakan kesehatannya.
2. Hidup kotor
Ketika seseorang yang mencandu karena terlibat dalam permainan video
game, maka ia mulai mengabaikan segala hal terkait kebersihan pribadi.
Seseorang akan malas mandi, sehingga menyebabkannya memiliki banyak
jerawat, hingga penyakit gigi.
3. Isolasi diri
Seseorang yang bermain video game berlebihan menyebabkan orang itu memilih mengisolasi dirinya dari dunia luar. Ia cenderung mengasingkan diri dari teman dan keluarga. Orang itu lebih asyik dengan permainannya.
Ketidakpedualian seseorang terhadap kebersihan pribadi hanyalah awal
perpindahan orang itu dari dunia nyata dan menjauh dari kehidupan sosial. Baginya, interaksi dengan tokoh-tokoh hero video game lebih berarti dibandingkan interaksi dengan siapapun.
Orang yang sudah kecanduan video game mudah mengabaikan pekerjaan,
sekolah, teman-teman, dan keluarganya. Ia menolak melakukan aktivitas
apapun begitu bangun pagi kecuali bermain video game.
Para peneliti masih berdebat tentang efek bermain video game. Khususnya
hubungan antara bermain video game, kesehatan, kesejahteraan, dan
kecanduan video game.
Beberapa waktu lalu, ROL telah membahas 10 dampak positif bermain video
game. Kini, kita akan membahas 10 dampak negatif bermain video game. Apa
saja dampak negatif bermain video game? Ini dia dikutip dari
SymptomFind.
4. Depresi
Meskipun pecandu video game tak menyadari awal dirinya despresi, namun
perlahan penyakit ini akan meresap cepat ketika dia merasa diperbudak
oleh kecanduannya sendiri. Hanya ketika seseorang berhenti bermain,
kemudian berpikir tentang waktu-waktu yang telah dia lewatkan begitu
saja, baru orang itu menyesalinya dan berujung pada depresi
5. Stres
Stres dari kecanduan video game biasanya disebabkan oleh sejumlah
skenario. Pertama, seseorang menjadi begitu terobsesi dengan video game.
Kegagalan mereka memenangkan level-level pada video game menyebabkannya
stres berlebihan.
Kedua, seseorang menyadari bahwa hidupnya kacau karena video game. Ini
menyebabkan stres juga. Satu-satunya cara orang untuk menghindari tipe
stres kedua ini adalah dengan tetap bermain video game dan melupakan
waktu.
6. Arthritis dan Carpal Tunnel Syndrome
Kedua penyakit di atas adalah gangguan fisik. Video game bisa
menyebabkan masalah pada jempol seseorang di kemudian hari. Tubuhnya
juga rentan penyakit osteoarthritis. Sedangkan carpal tunnel syndrome adalah tekanan pada saraf di pergelangan tangan anda.
7. Makan kurang sehat
Ketika pecandu video game terlalu sibuk untuk bermain, maka ia akan
jarang mandi, dan jarang tidur. Ini juga berdampak pola makan mereka
menjadi tak sehat.
Pecandu video game selanjutnya akan beralih ke makanan cepat saji dan
memilih memakan makanan beku dan instan. Mereka justru memperbanyak
minuman soda dan minuman energi dengan harapan mereka bisa bermain dalam
kondisi prima. Ini menyebabkan pecandu video game mudah terserang
obesitas, diabetes, dan kondisi kesehatan serius.
Selama bertahun-tahun, orangtua sering bertanya-tanya tentang dampak
negatif dari video game terhadap kesehatan anak-anak mereka. Orangtua
terkadang tak terbiasa dengan hobi anaknya bermain alat elektronik
tersebut.
Mereka cenderung percaya bahwa sering bermain video game itu menyebabkan
sang anak rusak penglihatannya, kemampuan mentalnya turun, dan karakter
si anak akan terpengaruh, khususnya jika sering memainkan adegan
kekerasan dalam permainan video game.
Apa saja dampak negatif bermain video game? Ini dia dikutip dari SymptomFind, Jumat (4/1).
8. Perilaku agresif
Video game menjadi ajang melepaskan agresivitas dalam diri seseorang.
Bentuknya adalah ambisi menguasai permainan dan memenangkan permainan.
Bagi mereka yang sudah kecanduan, sikap agresif yang berlebihan ini pada
akhirnya juga tanpa mereka sadari mereka praktekkan dalam kehidupan
nyata.
Ini yang menyebabkan seseorang menampilkan pola-pola prilaku agresif
yang tak biasa. Misalnya, marah besar jika aktivitas bermain video game
mereka diganggu.
9. Gaya hidup buruk
Pecandu video gama akan mencurahkan semua waktunya untuk aktif bermain
video game. Dia hanya akan duduk atau berbaring dalam praktik
kesehariannya. Kebiasaan makannya juga buruk, dan kebiasaan tidurnya
kacau. Ini menyebabkan mereka mudah terkena stroke, penyakit jantung,
dan hipertensi.
10. Berbohong
Berbohong adalah salah satu cara pecandu video game untuk menutupi
perilaku abnormalnya. Ini adalah salah satu tanda seseorang telah
kecanduan penuh oleh video game. Mereka akhirnya berbohong pada dirinya
sendiri dan menyangkal bahwa mereka tak memiliki masalah sama sekali.
kecanduan Game, Ini Usia Ideal Kenalkan Gadget pada Anak
Senin, 10 Desember 2012 11:01 WIB
Istimewa
Anak-anak bermain game di gadget.
TRIBUNNEWS.COM, INGGRIS - Anak-anak saat ini sudah semakin "melek" teknologi. Bagaimana tidak, mereka bisa mengoperasikan smartphone atau dibekali orangtua dengan tablet.
Hal ini mengakibatkan anak semakin cerdas
dalam memanfaatkan teknologi, tetapi dapat juga menyebabkan anak
kecanduan game yang mereka mainkan di gadget tersebut. Jika kondisi
seperti ini, orangtua lain perlu memerhatikan umur berapa anak boleh
dibekali gadget.
Penelitian terbaru dari Cashinyourgadgets.co.uk, sebuah situs yang menyediakan layanan purna jual gadget, menemukan bahwa 13 persen orangtua membelikan gadget pertama untuk anak yang berumur di bawah 10 tahun, dan 45 persen orangtua membelikan anak gadget ketika mereka berumur 13 tahun ke atas.
"Anak-anak semakin cerdas dengan gadget, menginginkan yang terbaik dalam rangka untuk bersaing dengan teman-teman mereka di taman bermain.
Akibatnya, rumah tangga memiliki gadget yang tidak terpakai. Seperempat keluarga memiliki setidaknya dua ponsel tua yang rusak atau delapan persen memiliki empat ponsel atau lebih," ujar Ashley Payne dari Cashinyourgadgets.co.uk.
Lalu usia berapa, orangtua memberikan anak mereka gadget pertama?
Jawaban yang paling populer adalah 35 persen mengatakan di atas 13 tahun, seperempatnya memberikan pada usia antara 10 -13 tahun, dan lebih dari 13 persen memberi gadget ke anak saat usia enam tahun.
Katy Hayden, dari lembaga pengasuh Childcare Expert, mengatakan waktu terbaik untuk membeli ponsel atau gadget pertama untuk anak tergantung pada individu.
Namun, diketahui bahwa anak-anak pada usia 11 akan selalu menginginkan gadget teknologi terbaru, karena kemungkinan besar mereka mulai sekolah menengah, dan melihat anak-anak yang lebih dewasa dengan iPhone dan iPad, dan ingin menjadi seperti mereka.
"Namun, penting untuk bertanya pada diri sendiri mengapa anak-anak menginginkannya, untuk terlihat keren atau untuk alasan keamanan jika bepergian ke sekolah sendiri?" lanjut Katy.
Sebelum membalikannya, sebaiknya orangtua mendiskusikan dengan anak tentang alasan mereka menginginkan gadget. Mungkin orangua mengijinkan memiliki ponsel yang murah, karena dapat dibeli dengan sistem kredit, dan ponsel untuk penggunaan sesekali dan darurat.
Anak-anak juga penting memelajari nilai barang, sehingga ketika mereka memiliki ponsel murah, mereka dapat berusaha bagaimana cara mendapatkan ponsel yang lebih besar ketika beranjak dewasa. Bagi orangtua yang sedang memersiapkan kado Natal atau hadiah ulangtahun dapat memertimbangkan hal ini. (Female First/Agustina Rasyida)
Penelitian terbaru dari Cashinyourgadgets.co.uk, sebuah situs yang menyediakan layanan purna jual gadget, menemukan bahwa 13 persen orangtua membelikan gadget pertama untuk anak yang berumur di bawah 10 tahun, dan 45 persen orangtua membelikan anak gadget ketika mereka berumur 13 tahun ke atas.
"Anak-anak semakin cerdas dengan gadget, menginginkan yang terbaik dalam rangka untuk bersaing dengan teman-teman mereka di taman bermain.
Akibatnya, rumah tangga memiliki gadget yang tidak terpakai. Seperempat keluarga memiliki setidaknya dua ponsel tua yang rusak atau delapan persen memiliki empat ponsel atau lebih," ujar Ashley Payne dari Cashinyourgadgets.co.uk.
Lalu usia berapa, orangtua memberikan anak mereka gadget pertama?
Jawaban yang paling populer adalah 35 persen mengatakan di atas 13 tahun, seperempatnya memberikan pada usia antara 10 -13 tahun, dan lebih dari 13 persen memberi gadget ke anak saat usia enam tahun.
Katy Hayden, dari lembaga pengasuh Childcare Expert, mengatakan waktu terbaik untuk membeli ponsel atau gadget pertama untuk anak tergantung pada individu.
Namun, diketahui bahwa anak-anak pada usia 11 akan selalu menginginkan gadget teknologi terbaru, karena kemungkinan besar mereka mulai sekolah menengah, dan melihat anak-anak yang lebih dewasa dengan iPhone dan iPad, dan ingin menjadi seperti mereka.
"Namun, penting untuk bertanya pada diri sendiri mengapa anak-anak menginginkannya, untuk terlihat keren atau untuk alasan keamanan jika bepergian ke sekolah sendiri?" lanjut Katy.
Sebelum membalikannya, sebaiknya orangtua mendiskusikan dengan anak tentang alasan mereka menginginkan gadget. Mungkin orangua mengijinkan memiliki ponsel yang murah, karena dapat dibeli dengan sistem kredit, dan ponsel untuk penggunaan sesekali dan darurat.
Anak-anak juga penting memelajari nilai barang, sehingga ketika mereka memiliki ponsel murah, mereka dapat berusaha bagaimana cara mendapatkan ponsel yang lebih besar ketika beranjak dewasa. Bagi orangtua yang sedang memersiapkan kado Natal atau hadiah ulangtahun dapat memertimbangkan hal ini. (Female First/Agustina Rasyida)